Pages

Selasa, 16 Oktober 2012

Penerapan Pembelajaran IPS Di SD


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan yang berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu kurikulum  pendidikan harus dirancang dan diimpletasikan untuk menjawab tantangan global ini. Untuk menjawab tantangan ini, dalam dunia pendidikan kedudukan dan peran guru adalah sangat menentukan. Sebab dalam organisasi pendidikan, proses produktif pembelajaran yang paling ditekankan, dengan demikian guru adalah orang yang ada di garis terdepan pada proses pendidikan di sekolah. Dia merupakan perancang, pelaksana, dan pengevaluasi proses pembelajaran. Jadi tidak berlebihan jika dikatakan guru adalah orang yang tahu proses nyata yang terjadi di sekolah. Oleh karena itu, guru harus selalu tanggap terhadap perkembangan ilmu dan teknologi yang berjalan dengan sangat cepat. Untuk itu, dapat dikatakan bahwa guru merupakan kunci dari segala usaha untuk mengembangkan sekolah. Dengan demikian , upaya peningkatan mutu sekolah bahkan mutu pendidikan pada umumnya tanpa meningkatkan mutu gurunya merupakan upaya yang sia-sia.
Dalam pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik , mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Terkait dengan tugas pembelajaran, menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 ayat (2) dinyatakan bahwa ”pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Dalam konteks demikian sebenarnya guru dituntut untuk berperan sebagai sutradara, aktor sekaligus penonton kritis atas apa yang dia kerjakan. Sebagai sutradara ia dituntut untuk membuat skenario pembelajaran (rencana pembelajaran) yang akan dilaksanakan bersama-sama. Sebagai aktor ia bersama siswa harus menjalankan peran sebagaimana yang dituntut dalam skenario yang telah ia buat dan sebagai penonton kritis ia dituntut untuk selalu mengamati proses pembelajaran yang terjadi sebagai bahan refleksi untuk menentukan keberhasilan atau ketidakberhasilan program pembelajaran yang telah direncanakan dan dilaksanakan.
Secara umum tugas guru mata pelajaran IPS adalah sama dengan tugas guru mata pelajaran lainnya. Namun demikian dengan melihat karakteristik mata pelajaran IPS berbeda dengan mata pelajaran lainnya, maka setidaknya ada beberapa hal yang menjadi pembedanya. Misalnya, pada kurikulum sekarang ini (KTSP) ditekankan bahwa substansi mata pelajaran IPS merupakan IPS terpadu, maka tuntutannya adalah bahwa guru IPS sekarang ini harus memahami dan menerapkan model-model pembelajaran terpadu sebagaimana tuntutan kurikulum. Karakteristik IPS lainnya adalah bahwa masalah-masalah sosial kemasyarakatan sebagai objek kajian IPS selalu berkembang terus menerus, maka sebagai guru mata pelajaran IPS dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan itu agar apa yang diajarkannya selalu up to date (masalah-masalah terkini).

B.       Rumusan masalah
1.      Apa saja ketrampilan yang harus dimiliki seorang guru dalam mengajar?
2.      Bagaimana merancang/merencanakan penggunaan metode pembelajaran IPS SD?
3.      Bagaimana menerapkan metode pembelajaran IPS di SD?
4.      Bagaimana menerapkan metode mengajar baik secara individu maupun secara kelompok?

C.      Tujuan
Dalam penulisan makalah ini, penulis mempunyai tujuan sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui ketrampilan yang harus dimiliki seorang guru dalam mengajar.
2.      Untuk merancang/merencanakan penggunaan metode pembelajaran IPS SD.
3.      Agar dapat memahami penerapan metode pembelajaran IPS di SD.
4.      Memahami penerapan metode mengajar yang baik.


BAB II
KAJIAN TEORI

A.      KETRAMPILAN YANG HARUS DIMILIKI SEORANG GURU
Seorang guru professional telah mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan dasar mengajar. Dalam keterampilan dasar mengajar tersebut ada 8 keterampilan yang dapat digunakan guru selama proses belajar mengajar yaitu: keterampilan bertanya, keterampilan memberikan penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.
1.    Ketrampilan Bertanya
Bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenal. Respon yang di berikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir. Dalam proses belajar mengajar, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat akan memberikan dampak positif.
Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, guru perlu menunjukkan sikap yang baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Dan harus menghindari kebiasaan seperti : menjawab pertanyaan sendiri, mengulang jawaban siswa, mengulang pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan dengan jawaban serentak, menentukan siswa yang harus menjawab sebelum bertanya dan mengajukan pertanyaan ganda. Dalam proses belajar mengajar setiap pertanyaan, baik berupa kalimat tanya atau suruhan yang menuntut respons siswa sehingga dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, di masukkan dalam golongan pertanyaan. Ketrampilan bertanya di bedakan atas ketrampilan bertanya dasar dan ketrampilan bertanya lanjut.
Ketrampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Komponen-komponen yang di maksud adalah : Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, Pemberian acuan, pemusatan, Pemindah giliran, Penyebaran, Pemberian waktu berpikir dan pemberian tuntunan.
Sedangkan ketrampilan bertanya lanjut merupakan lanjutan dari ketrampilan bertanya dasar yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa, memperbesar pertisipasi dan mendorong siswa agar dapat berinisiatif sendiri. Ketrampilan bertanya lanjut di bentuk di atas landasan penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Karena itu, semua komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan ketrampilan bertanya lanjut. Adapun komponen-komponen bertanya lanjut itu adalah : Pengubahan susunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan, Pengaturan urutan pertanyaan, Penggunaan pertanyaan pelacak dan peningkatan terjadinya interaksi.
2.    Ketrampilan Memberikan Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
Penggunaan penguatan dalam kelas dapat mencapai atau mempunyai pengaruh sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan kegiatan belajar serta membina tingkah laku siswa yang produktif. Ketrampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh mahasiswa calon guru agar dapat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis.
Komponen-komponen itu adalah : Penguatan verbal, diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya. Dan penguatan non-verbal, terdiri dari penguatan berupa mimik dan gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda dan penguatan tak penuh. Penggunaan penguatan secara evektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu kehangatan dan evektifitas, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan respons yang negatif.





3.    Ketrampilan Mengadakan Variasi
Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang di tujukan untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, serta penuh partisipasi. Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran, yang dapat di kelompokkan ke dalam tiga kelompok atau komponen, yaitu :
Variasi dalam cara mengajar guru, meliputi : penggunaan variasi suara (teacher voice), Pemusatan perhatian siswa (focusing), kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence), mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement), gerakan badan mimik: variasi dalam ekspresi wajah guru, dan pergantian posisi guru dalam kelas dan gerak guru ( teachers movement).
Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran. Media dan alat pengajaran bila ditunjau dari indera yang digunakan dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat, dan diraba. Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah sebagai berikut : variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids), variasi alat atau bahan yang dapat didengar (auditif aids), variasi alat atau bahan yang dapat diraba (motorik), dan variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat dan diraba (audio visual aids).
Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa. Pola interaksi guru dengan murid dalam kegiatan belajar mengajar sangat beraneka ragam coraknya. Penggunaan variasi pola interaksi dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejemuan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan.
4.    Ketrampilan Menjelaskan
Yang dimaksud dengan ketrampilan menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya. Secara garis besar komponen-komponen ketrampilan menjelaskan terbagi dua, yaitu : Merencanakan, hal ini mencakup penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada diantara unsur-unsur yang dikaitkan dengan penggunaan hukum, rumus, atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan. Dan penyajian suatu penjelasan, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : kejelasan, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan balikan.
5.    Ketrampilan Membuka dan Menutup pelajaran
Yang dimaksud dengan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar.
Komponen ketrampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari. Komponen ketrampilan menutup pelajaran meliputi: meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, dan mengevaluasi.
6.    Ketrampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan berbahasa.
7.    Ketrampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dalam melaksanakan ketrampilan mengelola kelas maka perlu diperhatikan komponen ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prefentip) berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran, dan bersifat represif ketrampilan yang berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
8.    Ketrampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan
Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa.
Komponen ketrampilan yang digunakan adalah: ketrampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, ketrampilan mengorganisasi, ketrampilan membimbing dan memudahkan belajar dan ketrampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Diharapkan setelah menguasai delapan ketrampilan mengajar yang telah dijelaskan di atas dapat bermanfaat untuk mahasiswa calon guru sehingga dapat membina dan mengembangkan ketrampilan-ketrampilan tertentu mahasiswa calon guru dalam mengajar. Ketrampilan mengajar yang esensial secara terkontrol dapat dilatihkan, diperoleh balikan (feed back) yang cepat dan tepat, penguasaan komponen ketrampilan mengajar secara lebih baik, dapat memusatkan perhatian secara khusus kepada komponen ketrampilan yang objektif dan dikembangkannya pola observasi yang sistematis dan objektif.
Dari delapan kompetensi yang telah dijelaskan di atas, yang paling penting bagi guru adalah bagaimana cara guru dapat menggunakan agar proses pembelajaran dapat berjalan baik. Salah satu faktor yang dapat mengukur proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, makin banyaknya jumlah siswa bertanya.

B.     METODE MENGAJAR INDIVIDU DAN KELOMPOK
Metode  mengajar kelompok sangat dibutuhkan untuk siswa yang jumlahnya besar sehingga dibutuhkan teknik tesendiri untuk mengetasinya, sebab kelompok itu dipandang sebagai massa dengan segala sifat yang menjadi ciri – ciri massa. Walaupun tidak selalu bahwa guru itu menghadapi kelompok besar, namun kiranya perlu mengetahui beberapa diantaranya karena mungkin suatu saat ia dibutuhkan. Berikut beberapa beberapa diantaranya :
1.      Metode Mengajar Individu
Beberapa metode mengajar yang dapat divariasikan oleh pendidik diantaranya :
a.        Metode Ceramah (Preaching Method)
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
kelemahan metode ceramah adalah :
1)    Membuat siswa pasif
2)    Mengandung unsur paksaan kepada siswa
3)    Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985)
4)    Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
5)    Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
6)    Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
7)    Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
kelebihan metode ceramah adalah :
1)    Guru mudah menguasai kelas.
2)    Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
3)    Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
4)    Mudah dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
b.       Metode diskusi ( Discussion method )
Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).
1)      Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk :
Mendorong siswa berpikir kritis.
2)       Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas.
3)      Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama.
4)      Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.
Kelebihan metode diskusi sebagai berikut
1)      Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan
2)      Menyadarkan ank didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik.
3)       Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :
1)      tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
2)      Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3)      Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4)      Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
c.        Metode demontrasi ( Demonstration method )
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000).
Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000).
Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah :
1)    Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan
2)    Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
3)    Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa (Daradjat, 1985)
Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :
1)    Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja suatu benda.
2)    Memudahkan berbagai jenis penjelasan .
3)    Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :
1)      Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
2)      Tidak semua benda dapat didemonstrasikan
3)    Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
2.      Metode Mengajar Kelompok
a.    Seminar
Penggunaan Seminar
Seminar ini akan efektif bila :
-          Tersedia waktu yang cukup untuk membahaspersoalan
-          Problema sudah di rumuskan dengan jelas
-          Para peserta dapat di ajak berfikir logis
-          Problema memerlukan pemecahanyang sistematis
-          Probleme akan di pecahkan secara menyeluruh
-          Pimpinan sidang cukup terampil dalam mengginakan metode ini
-          Kelompok tidak terlalu besar sehingga memungkinkan setiap peserta mengambil bagian dalam berpendapat
Kelebihan :
-          Membangkitkan pemikiran yang logis
-          Mendorong pada analisa menyeluruh
-          Prosedurnya dapat di terapkan untuk berbagai jenis problema
-          Meningkatkan keterampilan dalam mengenal problema
Kelemahan :
-          Membutuhkan banyak waktu
-          Memerlukan pimpinan yang terampil
-          Sulit di pakai bila kelompok terlalu besar
-          Mungkin perlu di lanjutkan pada diskusi yang lain
b.   Simposium
Penggunaan Simposium
-          Untuk mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari suatu topik tertentu
-          Jika kelompok peserta besar
-          Kalau kelompok membutuhkan keterampilan ringkas
-         Jika ada pembicara yang memenuhi syarat
Kelebihan :
-          Dapat di pakai dalam kelompok besar maupun kecil
-          Dapat mengemukakan informasi banyak dalam waktu singkat
-          Penggantian pembicara menambah variasi dan sorotan dari berbagai segi akan menjadi sidang lebih menarik
-          Dapat di rencanakan jauh sebelumnya
Kelemahan :
-          Kurang spontanitas dan kreatifitas
-          Menekankan pokok pembicaraan
-          Agak terasa formal
-          Sulit mengadakan kontrol waktu
-          Membutuhkan perencanaan sebelimnya dengan hati-hati untuk menjamin jangkauan yang tepat
-          Cenderung di pakai secara berlebihan


c.    Forum
Pengunaan Forum
Forum digunakan sebagai suatu metode pengajaran kelompok :
-          Untuk memeberi kesempatan interaksi kelompok
-          Pada saat diperlukan kombinasi antara maksud penyajian dengan reaksi kelompok
-          Jika diinginkan pandangan atau tanggapan dari pengunjung
-          Kalau kelompok itu sangat besar
Kelebihan :
-          Menambah pandangan dengan reaksi pengunjung
-          Dapat dipakai terutama pada kelompok yang besar
-          Dapat dipakai untuk menyajikan keterampilan yang baik dalam waktu yang singkat
-          Penggantian pembicara untuk menambah variasi
Kelemahan :
-          Membutuhkan banyak waktu
-          Pribadi masing-masing pembicara daoat memaksakan pada materi yang kurang tepat
-          Tanggapan dari kelompok tertunda
-          Sulit mengendalikan waktu
-          Periode forum mudah terulur
d.   Musyawarah Kerja
Penggunaan Rapat Kerja
Rapat kerja digunakan untuk dua hal pokok yaitu :
-          Kalau dirasa ada kebutuhan untuk saling bertukar pengalaman
-          Timbul kebutuhan untuk mengevaluasi program kerja yang telah ada untuk mengembangkan sesutu yang baru
Kelebihan :
-          Persoalan yang dihadapi dapat dipecahkan bersama
-          Menambah pengalaman dari hasil kerja orang lain
-          Mendapatkan perkembangan-perkembangan baru di bidang kerja
-          Evaluasi program akan menjadi umpan balik untuk penyempurnaan kerja
Kelemahan :
-          Rapat kerja memakan waktu lama sehingga seseorang harus meninggalkan pekerjaan cukup lama
-          Kalau bidang yang dibahas selalu luas,sering tidak tuntas
-          Membutuhkan oersiapan sistematis untuk tiap bidang kerja yang akan di evaluasi
Kadang-kadang tidak semua masalah yang diinventarisasi dapat masuk ke panitia jauh sebelumnya


BAB III
PEMBAHASAN

A.    MERANCANG  PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN
1.         Merencanakan Penggunaan Metode Pembelajaran IPS di SD yang berlandaskan Pendekatan Personal
Pendekatan personal adalah suatu pendekatan dalam pengajaran yang berorientasi kepada pengembangan diri individu dan pembentukan pribadi. Pendekatan dengan menggunakan pendekatan personal bersifat menolong siswa dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungan. Melalui pendekatan ini siswa diharapkan dapat melihat diri pribadi dan sebagai pribadi yang berbeda dalam suatu kelompok serta memiliki kecakapan tertentu. Dengan demikian diharapkan siswa mampu menghasilkan hubungan interpersonal yang cukup baik dengan kelompoknya.
Teori –teori yang menghasilkan model-model yang serumpun dengan pendekatan personal adalah:
1.        Model pengajaran non directif, oleh Varl Rogers
2.        Model latihan kesadaran, oleh Frits Perst dan William Schurt
3.        Model Synectic oleh, William Gordon
4.        Model sistem konsepsional, oleh David Hunt
5.        Model pertemuan kelas, oleh William Glasser
Dalam kelima model tersebut yang akan dibahas lebih lanjut adalah model pertemuan kelas dari Glasser
Glasser membedakan pertemuan kelas menjadi 3 yaitu :
1.      Tipe pertemuan pemecahan sosial
Tipe pertemuan ini fokusnya terarah kepada masalah –masalah perilaku dan sosial.dalam pertemuan kelas ini berupaya mengembangkan tanggung jawab untuk belajar dan berperilaku dengan jalan memecahkan masalah mereka didalam kelas
2.      Tipe pertemuaan terbuka
Pada pertemuan terbuka siswa diberi kebebasan untuk berfikir dan bertanya tentang masalah – masalah yang berkaitan dengan kehidupan mereka dalam pertemuan terbuka seringkali siswa mempunyai inisiatif untuk membicarakan topik yang berkaitan dengan pengalaman mereka sendiri
3.      Tipe pertemuan terarah terbuka
Pada pertemuan terarah terbuka pada dasarnya sama dengan pertemuan terbuka. Bedanya , pada pertemuan terarah terbuka permasalahanya yang akan dibicarakan sudah diarahkan kepada materi atau bahan yang sedang dipelajari oleh siswa didalam kelas. Dengan kata lain pembicaraan dan pertanyaan diarahkan kepada masalah – masalahyang sudah dirancang sesuai dengan materi yang dipelajari

Salah satu pendekatan personal yang dipilih adalah model pertemuan kelas oleh William Glasser yang terarah terbuka.
Dalam pertemuan kelas ada tahap – tahap yang harus dilalui yaitu:
1.      Menciptakan iklim yang mengundang keterlibatan.dalam hal ini dipelukan iklim yang hangat,bersifat pribadi,menciptakan hubungan yang baik antara guru-siswa,dan siswa dengan siswa.dalam hal ini guru harus mendorong setiap siswa untuk berperan dan menyeleksi pendapat tanpa celaan dab penilaian.
2.      Menyajikan masalah untuk diskusi
a.       Mengajukan permasalahan,kemudian
b.      Siswa memberikan contoh-contoh
c.       Siswa mendiskripkan masalah
d.      Iswa mengidentifikasi konsekuensi(mencari pemecahan)dan
e.       Siswa mengidentifikasikan norma – sosial.
3.      Mengembangkan pertimbangan nilai pribadi
4.      Dalam hal ini siswa dapat membuat pertimbangan pribadi terhadap prilaku siswa, untuk itu siswa harus :
a.       Mengidentifikasikan nalai yang terkandung dibelakang masalah prilaku dan norma.
b.      Siswa membuat pertimbangan pribadi terhadap norma dan menyatakan nilainya.
5.      Mengidentifikasikan alternatif tindakan.
Dalam hal ini siswa:
a.       Mendiskusikan alternatif kusus
b.      Siswa sepakat mentaatinya
6.      Merumuskan kesepakatan.
Dalam hal ini siswa merumuskan kesepakatan bersama.
7.      Perilaku tindak lanjut.
Dalam hal ini guru meminta kepada siswa untuk menilai efeksivitas perilaku baru dan mencari tindakan berikutnya (tindak lanjut)
2.         Merencanakan Penggunaan Metode Pembelajaran IPS di SD yang berlandaskan Pendekatan Sosial
Pendekatan sosial perlu dikembangkan mengingat proses – proses soaial akan dialami oleh anak didik sehingga kegiatan belajar – mengajar harus membantu anak didik mengambangkan kemampuan hubunagn dengan masyarakat dan mampu mengadakan hubunagan antar pribadi.
Yang dimaksud pendekatan sosial antara lain:
a.         Model investigasi kelompok
b.        Model inquiri sosial
c.         Metode laboratori
b.        Model yurisprudensial
c.         Model bermain peran
d.        Model simulasi sosial
Model pendekatan sosial mempunyai tiga ciri utamayaitu :
a.       Adanya aspek – aspek sosial dalam kelas yang dapat membutuhkan terciptanya diskusi kelas.
b.      Adanya penetapan hipoteseis yang dapat digunakan sebagai arahan dalam memecahkan    masalah.
c.       Dalam menguji hipotesis dipergunakan masalah yang harus dipecahkan.
Dalam menggunakan pendekatan sosial fungsi guru tidak sebagai pemberi perintah, tetapi sebagai pembimbing.Sebagai pembimbing maka tugas guru adalah:
a.       Memberi bantuan kepada siswa dalam menjelaskan kedudukannya sebagai siswa yang sedang belajar.
b.      memberikan bantuan kepada siswa tentang cara – cara belajar.
d.      memberikan bantuan kepada siswa dalam menyusun rencana kegiatan.
e.       membantu merumuskan dan menjelaskan setiap latihan yang ada dalam hipotesis maupun dalam masalah yang akan dipecahkan.
Dalam pembahasan ini yang akan dipilih untuk mengajarkan materi IPS di SD adalah model inquiri sosial. Dalam menggunakn model inquiri sosial,ada tahap – tahap yang harus dilalui  :
Pertama tahap orientasi
Dalam tahap ini, siswa diminta memilih masalah sosial yang akan dijadikan pokok bahasan.Masalah itu dapat bersumber dari peristiwa sosial atau disekolah atau masyarakat sekitar sekolah.
Kedua tahap hipotesis
Tahap  mempunyai kejelasan untuk melakukan pengujian.
a.       Valid atau mempunyai kejelasan untuk melakukan pengujian (menguji apa yang seharusnya diuji)
b.      Kompatibilitas, yaitu kesesuaian antara hipotesis denagn pengalaman siswa atau guru yang pernah diperoleh.
c.       Mempunyai hubungan dengan peristiwa yang telah tejadi sebelumnya.
Ketiga tahap definisi
Pada tahap ini siswa mengadakan pembahasan tentang pengertian latihan – latihan yang terdapat dalam hipotesis.Hal ini penting agar terdapat pengertian yang sama pada setiap siswa.
Keempat tahap eksplorasi
Tahap eksplorasi adalah tahap pengujian hipotesis denagn logika deduksi dan mengembangkan hipotesis dengan implikasi serta asumsi – asumsi.Apabila telah teruji antara hipotesis dengan dasar logika,maka tahap berikutnya adalah pembuktian dengan fakta – fakta.
Kelima tahap pembuktian
Dalam tahap ini ,parasiswa mengumpulkan data dengan metode yang sesuai.Misalnyamelui wawancara,angkey,dan observasi.Jika data telah terkumpul,kemudian diadakan anlisis data untuk di simpulkan,Apakah hipotesis diterima atau tidak.
Keenam tahap Generalisasi
Tahap ini merupakan tahap akhir dari model inkuiri sosial.Pada tahap ini telah dapat disusun pernyataan terbaik dalam pemecahan masalah.Generalisasi yang dihasilkan hendaknya disusun secara sederhana ,sehingga mudah dipahami siswa.

B.     PENERAPAN PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN
1.      Menerapkan Penggunaan Metode Pembelarajan IPS di SD yang Berlandaskan Pendekatan Personal
Sebagai contoh diambil GBPP Sekolah Dasar kelas III
a.         Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Siswa mengenal ciri khas provinsi setempat dan dapat menggunakan peta Indonesia.
b.        Pokok Bahasan (PB)
Pengetahuan propinsi setempat dan peta Indonesia.
c.         Sub Pokok Bahasan (SPB)
Propinsi setempat
d.        Materi Pelajaran/Uraian Materi
-          Menggambar peta sederhana propinsi setempat
-          Menggunakan propinsi setempat untuk membuat daftar kota, sungai, danau, gunung, batas – batasnya dan simbol – simbolnya.
-          Memenemukan petunjuk keadaan alam di propinsi setempat (Pegunungan, dataran, sungai, danau, bukit, selat, teluk, hewan, tumbuhan)
-          Menggunakan peta/atlas propinsi untuk menemukan daerah barang tambang, daerah wisata serta manfaatnya.
Setelah guru memahami TIU, PB, SPB dan uraian materi, maka guru melaksanakan langkah – langkah sebagai berikut :
a.       Menciptakan iklim yang mengundang ketertiban siswa untuk dapat membuat kelas menjadi 4 kelompok, yaitu :
1)        Kelompok pertama bertugas membuat peta propinsi setempat
2)        Kelompok kedua bertugas membuat daftar kota, sungai, danau, gunung, batasnya dengan propinsi tetangganya.
3)        Kelompok ketiga bertugas menjelaskan keadaan alam propinsi setempat, yaitu gunung, pegunungan, dataran, sungai, danau, bukti, selat, teluk, hewan, tumbuhan.
4)        Kelompok keempat bertugas mengamati daerah – daerah tambang dan meletakkanya dalam peta. Selain itu membuat prospek daerah yang dapat dijadikan objek wisata.
b.      Guru memberikan pengarahan pada 4 kelompok tersebut. Tugas yang diberikan supaya didiskusikan dalam kelompoknya. Setelah jelas mereka diminta mengerjakan tugasnya masing – masing.
c.       Siswa diminta memberikan penilaian terhadap kelompoknya masing – masing.
1)        Kelompok pertama mengkaji apakah tugasnya sudah memenuhi persyaratan
2)        Kelompok dua, tiga dan empat memberi penilaian terhadap keadaan alam, hasil tambang dan objek wisata yang dimiliki oleh propinsinya.
d.      Setelah memberi penilaian pada kelompoknya guru memberi pengarahan agar seluruh kelompok (Kelas) memilih keadaan alam, tambang dan objek wisata apa yang dapat dipilih untuk dikembangkan di propinsinya.
e.       Seluruh kelas mengambil kesepakatan bagaimana cara yang dapat ditempuh untuk menindak lanjuti apa yang telah dipilih bersama pada propinsinya.
f.       Tindakan selanjutnya adalah masing – masing kelompok penilaian efektifitas dari yang telah dikerjakan untuk memperkuat tindakan berikutnya.

2.      Menerapkan Metode Pembelajaran dengan Model Inkuiri Sosial
Setelah memahami SPB dan uraian materi seperti tertera diatas, maka dapat dipilih topik kerja bakti di daerah/ kota (RT/RW). Untuk itu ditentukan langkah- langkah sebagai berikut:
Ø  Tahap orientasi
Siswa dengan bimbingan guru menentukan masalah yang berkaitan dengan kerja bakti di daerah kota (RT/RW).
Rumusan masalahnya adalah : faktor-faktor yang menjadi penghambat kerja bakti di kota :
-          Penduduk kota kurang mengenal satu sama lain (dalam RW)
-          Mempunyai kesibukan yang berbeda
-          Gotong royong kurang baik
Ø  Tahap hipotesis
Siswa dengan bimbingan guru menyusun hipotesis sebagai berikut :
a.       Sulitnya kerja bakti di kota (RT/RW) karena warga kurang kenal satu sama lain
b.      Sulitnya kerja bakti di kota (RT/RW) karena gotong royong kurang baik
c.       Sulitnya kerja bakti di kota (RT/RW) karena warga mempunyai kesibukan yang berbeda-beda
Ø  Tahap definisi
a.         Warga di kota (dalam RT/RW) kadang-kadang kurang kenal antara satu dengan yang lain sehingga ada rasa enggan untuk bersama- sama kerja bakti
b.        Gotong royong di kota sudah sangat kurang (menipis). Padahal kerja bakti memerlukan kerja gotong royong
c.         Warga di kota (dalam RT/RW) mempunyai kesibukan yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk membuat kesepakatan kerja bakti dari seluruh anggota/ warga RT/RW
Ø  Tahap eksplorasi
Siswa mengadakan pengujian hipotesis dengan logika deduksi dan mengembangkan hipotesis dengan implikasinya serta asumsinya yang mendasarinya. Apakah betul, sulitnya kerja bakti karena kurang kenal? Masyarakat kota, rasa kekeluargaan kurang. Mereka cenderung bersifat individualistis. Karena itu gotong royong kurang baik. Lebih – lebih didukung adanya ksibukan dari masing – masing warga.
Ø  Tahap Pembuktian
Siswa dengan bimbingan guru melakukan pengumpulan data tentang mengapa kerja bakti dikota (RT/RW) sulit dilakukan. Setelah data terkumpul diadakan analisis dan dihubungkan dengan hipotesis. Data yang terkumpul mungkin sebagian besar menjawab “Sibuk” atau “Tak Tahu Bahwa ada Kerja Bakti”(Sibuk), atau data lain yang relevan dengan ketiga hipotesis maka hipotesis dapat diterima.
Ø  Tahap Generalisasi
Setelah hipotesis terbukti (diterima) atau ditolak siswa atas bimbingan guru menyusun pernyataan terbaik sebagai jawaban atas masalah yang dibahas yaitu : jika hipotesis diterima.
a.       Kesibukan warga (RT/RW) menghambat dilaksanakannya kerja bakti didaerah kota.
b.      Menipisnya gotong royong, menghambat dilaksanakannya kerj bakti di daerah kota.
Dalam menggunakan model inkuiri sosial sebagai metode mengajar, dapat digunakan media slide suara, yaitu kesibukan warga kota yang beraneka ragam. Selain itu situasi perumahan dikota yang mempunyai pemisah (tembok tinggi) antara rumah satu dengan rumah yang lain. Hal itu mendukung kurangnya hubungan antara warga di RT dan RW yang bersangkutan.


BAB III
Penutup
1.      simpulan
Seorang guru professional telah mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan dasar mengajar. Dalam keterampilan dasar mengajar tersebut ada 8 keterampilan yang dapat digunakan guru selama proses belajar mengajar yaitu: keterampilan bertanya, keterampilan memberikan penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.
Dalam merancang penggunaan metode pembelajaran ada 2 cara, yaitu Merencanakan Penggunaan Metode Pembelajaran IPS di SD yang berlandaskan Pendekatan Personal dan Merencanakan Penggunaan Metode Pembelajaran IPS di SD yang berlandaskan Pendekatan Sosial
Sedangkan Penerapan penggunaan metode pembelajaran ada 2 cara, yaitu Menerapkan Metode Pembelajaran dengan Model Inkuiri Sosial dan Menerapkan Penggunaan Metode Pembelarajan IPS di SD yang Berlandaskan Pendekatan Personal.
Metode mengajar kelompok sangat dibutuhkan untuk siswa yang jumlahnya besar sehingga dibutuhkan teknik tesendiri untuk mengetasinya, sebab kelompok itu dipandang sebagai massa dengan segala sifat yang menjadi ciri – ciri massa.

2.      Saran
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran IPS di SD kelas rendah terdiri dari beberapa pendekatan, model dan metode. Jadi dalam penerapannya dapat diterapkan melalui berbagai macam cara, dengan demikian diharapkan siswa dapat menerima pengajaran dengan mudah.

0 komentar:

Poskan Komentar